“Apa yang kita tanam belum tentu kita tuai, sedangkan apa yang kita tuai belum tentu dari apa yang sudah kita tanam.”
“Apa yang kita tanam pasti kita tuai” adalah sebuah persepsi yang sedikit multi tafsir dan pembenaran. Nyatanya, seringkali harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Bukankah hidup ini merupakan sebuah misteri yang menjebak jutaan manusia dalam ketidakpastian?
Sebagai Strategic Planner & Creative Thinker, saya Fauzi Priambodo, merasa bahagia ketika menemukan hal yang jarang dipikirkan kebanyakan orang. Seperti fenomena saat ini, penduduk bumi setiap hari sibuk bekerja untuk mencapai harapan, cita-cita, kekayaan, jabatan, kesejahteraan, uang, dan sebagainya. Banyak manusia yang ikhtiar bekerja siang malam seakan dunia tak ada ujungnya. Akan tetapi, impiannya belum juga jadi kenyataan. Sebaliknya, ada yang santai saja tetapi menuai hasil yang berkelimpahan.
Apakah kunci jawaban dari misteri harapan jutaan manusia yang belum tercapai saat ini?
Presiden Republik Indonesia ke-IV, Gus Dur, pernah berujar, “Hidup adalah Pilihan”. Saya sependapat dengan beliau. Apabila kita salah memilih jalan, maka kita harus konsekuen menjalani kenyataan yang ada. Bekerja apa? Sekolah jurusan apa? Profesi apa yang kita tekuni? Semua merupakan pilihan yang benar, asal halal.
Banyak orang bekerja tidak sesuai dengan bakat dan jurusan pendidikan yang ditempuh, namun hasilnya luar biasa.
Tak sedikit pula yang bekerja sesuai dengan minat dan bakatnya tetapi hasilnya belum sesuai harapan. Lantas apa yang membedakannya ?
Saya Fauzi Priambodo, sebagai Strategic Planner & Creative Thinker berpendapat semua jawabannya tergantung dari sudut pandang kita. Semut memandang dengan jangkauan yang sangat terbatas, tetapi menurut semut banyak kesempatan yang tidak bisa dilihat gajah. Pendapat seekor burung dengan pandangan yang lebih luas pun berbeda. Mungkin saja banyak kesempatan di luar sana yang bisa dilihat, yang juga menjanjikan banyak keindahan hidup.
Semua tergantung kita enjoy dalam menjalani hidup, karena makna sukses setiap manusia berbeda. Bukan tentang seberapa kaya atau miskin, tapi sepandai apa kita memaknai rasa cukup. Bukan tentang kemenangan atau kekalahan, tapi seberapa bisa kita mengamalkan perdamaian. Bukan tentang seberapa besar ujian hidup yang dihadapi, tapi seberapa mampu menjalani hidup dengan wajah yang terus bersinar dan bahagia.
“Manusia sering salah memaknai kehidupan karena fokus pada seberapa banyak yang belum dicapai, bukan seberapa banyak yang sudah diberi untuk dinikmati dan disyukuri. Sesungguhnya manusia tidak akan pernah mampu menghitung nikmat Allah SWT.”
Fauzi Priambodo
Strategic Planner & Creative Thinker
Comments