Sebuas Apa Era Digital dan Senikmat Apa Manfaatnya?
Fauzi Priambodo

Sekasar tepung terigu, sehalus salju. Tak sadar waktu menggilasmu, bila kamu isi dengan hal-hal yang tidak perlu.

Hampir semua orang tidak pernah merasakan kesepian di era digital ini. Selalu ada teman dan hiburan dalam genggaman, dan seakan-akan semua bisa dengan mudah terselesaikan. Sebagian orang bahkan tidak rela keluar rumah tanpa gadget yang lengket seperti dompet. Itu merupakan salah satu gejala penyakit baru di era digital ini bernama FOMO (Fear of Missing Out). 

FOMO merupakan rasa takut kehilangan dan dapat digambarkan sebagai gangguan sosial yang menyebabkan kecemasan karena tidak dapat berpartisipasi dalam peristiwa yang sama menyenangkannya dibandingkan orang lain. 

Banyak orang tua khawatir anaknya terserang FOMO. Sebab, anak muda zaman now takut dianggap tidak update atau kudet. Saking takutnya, mereka kemana-mana mencari informasi. Pencarian informasi ini terjawab oleh alat bernama gadget. Akibatnya, mereka menjadi kecanduan. Beberapa orang kini menyebut gadget dengan nama “setan gepeng”. Fenomena ini bisa disebut instrumen baru atau pergeseran nilai dalam kehidupan masyarakat kita. 

“Tak sadar waktu terus berlalu, waktu pun hilang di genggaman tanganmu”

Seluruh informasi tentang pendidikan, hiburan, agama dan kebutuhan hidup, bisa dengan mudah kita dapatkan melalui segenggam gadget. Sebagai Strategic Planner and Creative Thinker, saya, Fauzi Priambodo, menerapkan strategi baru dalam memudahkan dan mewujudkan harapan klien saya. Bahwa semua harus jitu dan bijak dalam mempelajari pergeseran nilai di masyarakat saat ini.

Saya selalu enjoy dalam mencermati berbagai pergeseran nilai ini. Alhamdulillah saya terlahir pada generasi baby boomer sehingga terlibat langsung dalam dua zaman (digital & analog). Hal ini memudahkan saya dalam mengamati karena mengalami secara langsung. 

Sebagai Strategic Planner and Creative Thinker, saya berpendapat cara tepat menaklukkan kebuasan digital adalah terlibat bijak dan aktif bekerja sama dengan teknologi digital itu sendiri. Sehingga, kita mampu mewujudkan ide dan gagasan menjadi karya digital yang menguntungkan. 

Langkah awalnya, kita bisa menentukan karya digital apa (produk atau jasa) yang tepat untuk bisa bertahan di masa depan. Kedua, model instrumen komunikasi digital yang bagaimana, supaya menjadi manfaat dalam beberapa tahun ke depan. Ketiga, strategi digital marketing yang seperti apa, untuk memudahkan produk atau jasa yang kita luncurkan bisa diterima pasar masa depan.

“Sebuas apapun era digital, apabila kita bijak dan pandai menggunakannya akan menjadi manfaat yang bisa dirasakan banyak orang”

Dengan tren komunikasi digital yang terus meningkat, tentunya akan terjadi ledakan pasar. Menyikapi hal ini, saya, Fauzi Priambodo, konsisten menaklukkan kebuasan era digital atau era “always on” .

Salah satu kesempatan berharga saya adalah ketika hadir pada undangan Google Singapore di Bali, 20-21 September 2018.  Event ini membahas mengenai Google AdWords dan era digital yang bertumbuh pesat dalam dunia marketing.

Google juga telah memberi solusi strategis dalam memanfaatkan dunia digital. Artinya, jutaan warganet sudah seharusnya disikapi dengan serius, khususnya dalam hal strategi digital marketing. Saatnya kita bersama -sama keluar dari zona nyaman, untuk selalu aktif dan fokus mempelajari hal baru yang positif. 

Fauzi Priambodo
Strategic Planner & Creative Thinker



 

Apakah artikel ini menarik untuk anda ? Yuk berbagi pengalaman dengan yang lain.

Comments